Rabu, 15 Juni 2011

Cerita perjalanan ke Merapi, Candi Ratu Boko dan Pantai Depok

Hari Ahad tanggal 12 Juni 2011,kami se rombongan dari mgmp klaster 3 Purwokerto melakukan perjalanan menuju wilayah yang sering dilanda bencana gunung meletus dalam rangka meningkatkan pengetahuan tentang pembelajaran vulkanologi yang nantinya bisa diterapkan untuk diketahui anak-anak di lingkungan tempat kami menularkan pengetahuan yang kami miliki.
Mungkin apa yang saya tulis disini banyak terdapat kata-kata atau kalimat yang aneh atau janggal, sebelumnya saya mohon maaf kepada pembaca yang sudi membuka blog saya ini.

Ahad jam 03.30 wib saya beranagkat dari rumah dengan diantar oleh orang terdekat saya yang waktu itu dia ibarat sambil memejamkan mata harus mengantar saya meuju ke terminal bis Purwokerto tempat kita kumpul,lho kenapa koq diterminal? karena lokasi kami aling berjauhan, ada yang rumahnya di Patikraja, Dukuhwaluh, Karles, Karkem sampai daerah Kedungbanteng. Lho koq ada karles sama karkem apaan tuuh..karanglewas sama karangkemiri.hehe..

Maaf sebelumnya bahasa saya ini campur aduk kayak gado-gado..

Perjalanan dimulai jam 04.30 lebih setelah sebelumnnya menjalankan jamaah sholat shubuh di masjid terminal sambil menunggu rekan yang belum datang. Ya memang jam di sini seperti karet, muluuurr..walhasil sampai di kaki gunung Merapi sudah jam 10.30 siang.. tentunya sudah sarapan pagi di bis yang membawa kami. oh iya ternyata awak bisnya tidak tahu jalan yang menuju ke tempatnya mbah Maridjan walhasil sebentar-sebentar berhenti menanyakan kepada penduduk setempat, yah tidak dipungkiri masih jarang rombongan yang berwisata ke Merapi mungkin karena takut, jauh, bahaya dll, dsb, etc ... dan ternyata memang pemandangan sekitar merapi sudah sangat mengenaskan, rumah-rumah roboh, pohon-pohon bertumbangan, permukaan tanahnya semuanya berdebu seperti necrovillage..(desa mati)


Sampailah bis yang kami tumpangi di sebuah tanah lapang yang wilayahnya tidak ada lagi rumah-rumah penduduk..kami kemudian turun dan melihat-lihat bekas-bekas bencana.Nah disini ini kami lihat kali kuning yang sangat lebar, dalam dengan tebing juraang yang sangat tinggi mungkin beda tipis sama grandcanyon sungai colorado di Amerika Serikat..wah waaah ngeri sekali tebing sungai kuning ini..dari atas tebing terlihat orang didasar jurang besarnnya cuma satu kuku jari..bayangkanlah..padahal kalau bagian hulu sungai yang normal itu sempit, curam dan dalam tapi yang ini sangat lebaaaar besaaarr dan luaaass..




Ini baru tahap pertama, kemudian bis melanjutkan ke tempat yang lebih tinggi, sampailah di terminal jadi-jadian yang agak luas,ups begituturun dari bis debunya sangat banyak dan beterbangan kiankemari *emangnya kupu-kupu*, langsung saja penghuni bis menyerbu tukang jual masker,nah bagi yang pake jilbab masker tidak bisa nyantel di kuping walhasil kupingnya di keluarkan dulu padahal ada tulisan dilarang mengeluarkan anggota badan hehe....

Nah disini ada banyak tukang jualan yang menggunakan tenda ada yang jual cobek yang terbuat dari batu gunung merapi, topi, makanan khas jadah tempe, tahu bacem dll padahal disana sini debu berterbangan ..pikirkanlah

kami serombongan melanjutkan perjalanan menuju desa Kinahrejo nun jauh di pucuk gunung dengan jalanan yang nanjak, berdebu..berat juga nih eh ternyata ada tukang ojek antar jemput 20rb perak plus jadi guide...

Pemandangan yang sungguh tidak disangka-sangka, pegunungan yang seharusnya hijau membentang, pohon-pohon tinggi menjulang, perkebunan yang seharusnya subur makmur, semuanya luluh lantak diterjang material vulkanik gunung Merapi, yang ada hanyalah bentangan pasir dan debu-debu halus
, bahkan batu-batu besar yang seharusnya adapun tertutup oleh bentangan pasir yang sagat luas. Meski demikian sekarang ini sudah bertumbuhan daun-daun mulai menghijau walau masih kecil.

Perlu anda ketahui juga bahwa runtuhan rumah-rumah penduduk yang tidak tertutup pasir masih teronggok apa adanya.Bahkan rongsokan mobil APV yang rencananya untuk mengevakuasi Mbah Maridjan sampai sekarang bagai sebuah monumen yang tergeletak tanpa ada yang menyentuhnya apalagi mempreteli besi-besi bekas *kalau di tempat saya sudah pasti diolah jadi berbagai industri kerajinan*. Tidak hanya itu onggokan bekas rumahpun tidak ada yang *istilah ditempatku nutur*,bahkan pohon-pohon pinus yang bertumbanganpun masih terlihat utuh dengan ranting-rantingnya * aku heran kenapa tidak ada orang yang memanfaatkan pohon/ranting itu untuk kayu bakar maupun yang lainnya*

Oh ya.. disekitar bekas rumah Mbah Maridjan, berdiri warung-warung kecil milik keluarga mbah Maridjan Alm, musholla Al Amien yang runtuh sudah dibangun semi permanen dan didekatnya terdapat "green house" dengan bunga-bunga yang indah dengan media tanam dari tanah vulkanik yang subur.
Kami serombongan pun tidak menyia-nyiakan waktu untuk memasuki mushola Al Amien untuk sholat dhuhur berjamaah. kiranya cukup sudah waktu untuk menambah pengetahuan disekitar Merapi dan semoga bermanfaat. ohh iya sedikit lagi karena yang terlihat pasir dan abu vulkanik ternyata mempunyai perbedaan kalau pasirnya keabu-abuan sedangkan debu/abu vulkanik berwarna kuning kecoklatan tentu karena kandungan mineral yang berbeda.

Pembaca, sampai disini perjalanan kami dilanjutkan menuruni Kinahrejo menuju ke Ratu Boko. Tidak banyak yang akan saya tulis di Candi Istana Ratu boko. Letak candi ini tidak jauh dari candi Prambanan, tetapi jauh diatas bukit yang tersembunyi. Untuk menjangkaunya ternyata awak bis juga masih harus bertanya-tanya karena memang tempat ini jarang menjadi tujuan wisata.
Layaknya istana jaman Majapahit, masih tersisa reruntuhan berupa gapura yang besar dengan undak-undakan yang semuanya terbuat dari batu-batu besar, didalamnya terdapat bekas istana, taman yang indah, kolam pemandian, keputren, bahkan sampai tempat pembakaran jenazah yang letaknya sangat tersembunyi*potensial untuk dua-duaan*.

Perjalanan dilanjutkan ke pantai Depok dengan jarak tenpuh sekitar 30 km, bayangkan dari Pucuk gunung di utara meluncur deras ke Pantai selatan membelah kota Yogyakarta tanpa menginjakkan kakinya di kota Gudeg yang mengesankan, tentu menjadi sesuatu hal yang mengganjal beberapa teman saya, karena separuh perjalanan lebih dihabiskan di bis,heemmp sangat melelahkan.

Sesampainya di pantai depok waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 wib sunset tinggal sedikit lagi, perlu anda ketahui perjalanan yang sangat jauh cuma singgah 1 jam di pantai ini.ckckck..yah hanya sebentar untuk foto-foto, beli oleh-oleh,*yang sangat dicari oleh ibu-ibu yang sangunya banyak adalah ikan segar yang besar-besar dan mahal*, mandi, sholat magrib.


Malam sekitar jam 18.30 wib kami serombongan pulang dengan membawa banyak pengalaman, ilmu yang mudah-mudahna bermanfaaat untuk ditularkan kepada anak-anak.

Sampai di rumah jam 01.00 wib.waktunya tiduurr..zzZ

Demikian cerita perjalanan saya dalam rangka studi wisata ke Kinahrejo..bila banyak kata yang tidak pas mohon dikomen..terimakasih atas dibacanya tulisan saya..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar